Lalu ia berdiri dengan tegar di gerbang
Tatapannya jauh menerawang seluruh isi kota
Miris dan senyap jiwanya mengenang hina
Pada tembok-tembok yang menyimpan luka
Wanita dengan segudang pesona
Melangkah dari pintu ke pintu
Penduduk kota tua sedang terjaga
Tiada pula menyadari arum gemulainya
Malam itu wanita berparas rembulan itu
Membawa pijar pelita di tangan kirinya
Senandungnya membangunkan seisi kota
Mempesonakan para tua-tua pinisepuh
Membutakan mata kawula muda yang terpana
Wanita itu sekali lagi berlalu
Berdiri di gerbang kota tua
Meninggalkan pesona yang membangkitkan kota
Tatapannya jauh menerawang seluruh isi kota
Miris dan senyap jiwanya mengenang hina
Pada tembok-tembok yang menyimpan luka
Wanita dengan segudang pesona
Melangkah dari pintu ke pintu
Penduduk kota tua sedang terjaga
Tiada pula menyadari arum gemulainya
Malam itu wanita berparas rembulan itu
Membawa pijar pelita di tangan kirinya
Senandungnya membangunkan seisi kota
Mempesonakan para tua-tua pinisepuh
Membutakan mata kawula muda yang terpana
Wanita itu sekali lagi berlalu
Berdiri di gerbang kota tua
Meninggalkan pesona yang membangkitkan kota
No comments:
Post a Comment